12.03.2008

DOA

HUKUM MEMOHON PERTOLONGAN KEPADA SELAIN ALLAH

Segala puji bagi Allah , shalawat dan salam semoga tercurahkan pada Rasulullah s.a.w., keluarga dan sahabat-sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya.
Didalam edisi tanggal 19/04/1390 surat kabar"Al Mujtama" yang terbit diKuwait menyiarkan beberapa bait syair yang berjudul:"Mengingat kembali(Maulid) Nabi yang Mulia"> bait demi bait syair tersebut mengandung istighatsah/memohon pertolongan kepada Nabi Muhammad untuk menyelamatkan umat ini dari berbagai macam bencana yang menimpa, akibat perpecahan dan perselisihan yang terjadi diantara mereka. Dalam syair itu penulis yang menamakan dirinya Aminah mengatakan :
Wahai Rasulullah ! selamatkan dunia
Yang mengobarkan dan menghembuskan apai peperangan
Wahai Rasulullah! selamatkan umat yang berada dalam gulita keraguan, sungguh panjang kepekatan malamnya,
Wahai Rasulullah! selamatkanlah umat dalam rundungan kepiluan yang meredam pandangannya.
Wahai Rasulullah! selamatkanlah umat dalam gelapnya keraguan, sungguh panjang kepekatan malamnya.
Segerakanlah kemenagan, seperti ketika Engkau segerakan pada hari perang badar, ketika engkau menyeru ilahi
Ketika itu, kehinaan menjadi kemenangan yang indah
Sesungguhnya Allah memiliki tentara yang tak terlihat.


Allahu akbar !
Beginilah penulis wanita ini menyampaikan seruan dan permintaan bantuan/istighatsahnya kepada Rasulullah, kepadanya penulis syair ini meminta, supaya menyelamatkan umat dengan menyegerakan kemenangan. Seperti ia lupa atau tidak tahu, bahwa kemenangan itu hanya ditangan Allah, bukan ditangan nabi dan bukan pula diatnagan makhluk lain, sebagaiamana yang dinyatakan Allah dalam firman-Nya :
"Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana".(QS.Al-Imran:126)
Pada surah lain di:QS.Al-Imran:160, QS.Ad-Dzaariyaat:56, QS.An-Nahl:36, QS.Al-Anbiyaa:25, QS.Hudd:1-2.
Didalam ayat-ayat ini, dengan gamblang Allah s.w.t menjelaskan, bahwa Dia menciptakan jin dan manusia, tiada lain kecuali agar mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan_Nya dengan yang lain. Allah juga menjelaskan bahwa Dia mengutus para Rasul untuk memerintahkan umat/umat menunaikan ibadah ini dan melarang melakukan sesuatu yang bertentangan dengannya.
Disamping itu, Allah mengabarkan bahwa Dia menyusun ayat-ayat-Nya dengan rapi kemudian menjelaskannya, supaya ibadah itu tidak ditujukan kepada selain-Nya
Ibadah ialah mentauhidkan Allah, berbuat ta'at kepada-Nya dengan mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya.Allah telah memerintahkan yang demikian dalam banyak ayat, diantaranya pada :
Qs.Al-Bayyinah:5, Qs.Al-Ira':23, Qs.Az-Zumar:1-3
Dan masih banyak lagi ayat-ayat lain yang semakna denganya, yang semuanya menunujukkan wajibnya memurnikan ibadah hanya kepada Allah dan meninggalkan beribadah kepada selain-Nya, baik nabi-nabi maupun yang lain. Dan sudah jelas bagi kita, bahwa sesungguhnya do'a adalah bagian ibadah yang terpenting dan terluas cakupannya. Oleh sebab itu, maka mesti diikhlaskan dimurnikan hanya kepada Allah, sebagaimana firman Allah, yang terdapat pada :
Qs.Al-Mu'minun:14, Qs.Al-Jin:18, QS.Yunus:106, QS.Al-Baqarah:254, QS.Luqman:13-30, Qs.Az-Zumar:65,dan Qs.Al-An'am:88

Agama islam dibangun diatas dua fondasi utama yaitu tidak beribadah kecuali kepada Allah dan tidak boleh beribadah kecuali dengan cara syariat yang diajarkan oleh Rasulullah muhammad s.a.w, inilah makan dari dua kaliamt syahadat:"Bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya Nabi Muhammad adalah utusan Allah".
Oleh sebab itu barangsiapa yang berdoa kepada orang-orang yang sudah meninggal,nabi-nabi atau yang lainnya, atau menyeru berhala, pohon-pohon, batu-batu dan makhluk lainnya, atau meminta pertolongan/istigahatsah, atau mendekatkan diri/taqarrub kepada mereka dengan mempersembahkan sesembelihan dan nadzar atau sujud kepada mereka, berarti ia telah mengambil tuhan-tuhan selain Allah dan menjadikan mereka sebagai tandingan-tandingan bagi-Nya. Perbuatan seperti ini bertentangan dengan makna"laa ilaaha illa Allah".
Demikian juga halnya dengan orang yang mengada-ada dalam urusan agama sesuatu yang tidak diizinkan Allah, berarti ia belum merealisasikan makna syahadat:"Muhammad Rasulullah".Allah Ta'ala berfirman:
"Dan Kami(Allah) hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu seperti debu yang berterbangan".(QS.Al-Furqan:23)
Amalan-amalan yang dimaksud dalam ayat ini ialah amalan-amalan orang yang meninggal dalam keadaan menyekutukan Allah Azza wazalla. Demikian juga halnya dengan amlan-amalan bid,ah yang diada-adakan dalam agama tanpa seizin Allah. Semuanya akan menjadi si-sia seperti debu yang berterbangan, karena tidak sesuai dengan syariat Allah yang suci, sebagaimana sabda Rasulullah:
"Barangsiapa yang mengada-ada sesuatu amalan dalam urusan agama kami ini yang bukan termasuk daripadanya, maka amalan itu ditolak/tidak diterima".

Penulis wanita ini telah beristighatsah kepada Rasulullah dan berpaling dari Tuhan Yang Menguasai alam semesta,Yang diTangan-Nyalah kemenangan, kemudharatan dan kemaslahatan, bukan pada yang lain. Ini jelas-jelas suatu kedzaliman besar dan merupakan kemusyrikan yang keji.
Sesungguhnya Allah 'Azza wa jalla telah memerintahkan agar berdo'a kepada-Nya dan berjanji akan mengabulkannya, dan sebaliknya. Dia mengancam orang-orang yang sombong dan tidak berdo'a kepada-Nya dengan memasukkannya kedalam neraka jahannam, Allah berfirman:
"Dan Tuhanmu berfirman;"Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesunguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah_ku akan masuk neraka jahannam adalam keadaan hina dina".(QS.Al-Maidah:60)
Ayat diatas menunjukkan bahwa do'a adalah ibadah, dan orang-orang yang menyombongkan diri, tidak mau berdo,a kepada Allah tempatnya adalah jahannam. Nah, kalau begini halnya orang yang menyombongkan diri dan tidak mau berdo'a kepada Allah, maka bagaimana dengan orang yang menyeru/berdo'a kepada selain-Nya dan berpaling daripada-Nya? Allah berfirman :
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku maka jawablah bahwaasannya aku adalah dekat. Aku mengabulkan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman pada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran".(QS>Al-Baqarah:186)
Maka setiap orang yang menyeru selain Allah, atau beristighatsah, bernadzar, menyembelih dan memberikan sesuatu dari jenis ibadah kepada selain Allah, berarti ia telah menjadikan tandingan bagi Allah, baik ia seorang nabi, wali, malaikat, jin, berhala, maupun makhluk-makhluk lainnya.
Adapun meminta tolong kepada seseorang yang masih hidup serta hadir untuk melakukan sesuatu yang dalam batas kemampuannya, tidaklah termasuk perbuatan syirik. Akan tetapi itu merupakan hal biasa yang boleh dilakukan sesama kaum muslimin, sebagaimana yang diabadikan Allah dalam kisah nabi Musa a.s pada QS.Al-Qashash:15-21.
Atau sebagaimana seseorang minta bantuan teman-temannya dalam peperangan atau dalam situasi sulit lainnya, dimana sebagian orang orang membutuhkan bantuan sebagian lainnya.
Sesungguhnya Allah telah memerintahkan Nabi-Nya untuk memaklumkan kepada umat manusia, bahwa dirinya tidak mempunyai kemampuan untuk memberi manfaat dan tidak pula mendatangkan mudharat. Dapat dilihat pada firman Allah di :QS.Al-Jin:20-21, QS.Al-A'raaf:188, QS.Al-Anfal:9-10, QS.Al-Imran:123.
Dalam ayat diatas Allah menjelaskan bahwa Dia-lah Sang Penolong mereka pada hari perang badar. Dengan demikian diketahui bahwa apa yang diberikan-Nya kepada mereka berupa keselamatan, kekuatan dan bala bantuan malaikat, semua itu hanyalah sebagai sebab untuk mendapatkan kemenagan, kegembiraan dan keteraman. Dan pada hakikatnya, kemenangan itu bukan karena sebab-sebab itu, akan tetapi berasal dari Allah semata.

Oleh sebab itu bagaimana mungkin penulis syair ini dan selainnya, menunjukkan permohonan bantuan dan pertolongan kepada Rasulullah dan berpaling dari Allah semesta alam, yang Memiliki dan maha Kuasa atas segala sesuatu?! Tidak diragukan lagi, ini adalah kebodohan yang nista, bahkan merupakan syirik besar.
Maka yang mesti dilakukannya ialah segera bertaubat nasuha kepada Allah, yaitu dengan menyesali apa yang telah terjadi dan meninggalkannya serta berazam untuk tidak mengulanginya kembali. Hal ini demi mengagungkan Allah, memurnikan agama kepada-Nya, menjunjung tinggi perintah-Nya dan berhati-hati terhadap larangan-Nya, inilah taubat nasuha.
Dan sesungguhnya Allah s.w.t maha pengampun.

Demi menunaikan kewajiban memberikan nasehat bagi Allah/membela agama-Nya dan kepada hamba-hamba-Nya, maka disusunlah tulisan ringkas ini, dengan berharap kepada Allah mudah-mudahan bermanfaat dan dapat menjadi sarana perbaikan bagi kondisi kita umat Isalm semuanya.

www.bentengtauhid,blogspot.com

Tidak ada komentar: